Teroris No. 1 Indonesia Tertangkap


JAKARTA – Pelarian Nurdin Halid berakhir. Terpidana dua tahun kasus korupsi dana pendistribusian minyak goreng Bulog Rp 169,71 miliar itu kemarin dijebloskan ke Rutan Salemba setelah sehari sebelumnya Jaksa Agung Hendarman Supandji memberikan deadline 1 x 24 jam bagi Nurdin yang belum genap seminggu dilantik menjadi anggota DPR itu.

Proses eksekusi Nurdin terbilang misterius. Nurdin menolak disebut ditangkap, tetapi menyerahkan diri. Sebaliknya, kejaksaan menjelaskan bahwa Nurdin ditemukan di sebuah lokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pukul 04.20. Meski demikian, kejaksaan tidak keberatan Nurdin disebut ditangkap.

“Yang jelas, begitu ditemukan, kami membawanya ke Rutan Salemba,” kata Kapuspenkum Kejagung Thomson Siagian di gedung Kejagung kemarin. Thomson didampingi ketua tim eksekutor yang juga Asisten Intelijen (Asintel) Kejati DKI Adi Tugarisman.

Thomson tidak sepakat tentang pengakuan Nurdin bahwa dirinya menyerahkan diri. Dia menganggap, kalau menyerahkan diri, Nurdin seharusnya mendatangi Kejari Jakarta Selatan.

Thomson lantas menceritatkan kronologi penangkapan Nurdin. Tim eksekutor awalnya memperoleh informasi bahwa Nurdin sedang berada di sebuah lokasi di Menteng. Lalu, tim eksekutor bergegas menuju ke sana. “Nah, saat itulah, kami menemukan terpidana dalam perjalanan,” katanya. Saat ditangkap, menurut Thomson, Nurdin tidak melawan. Tim eksekutor yang beranggota 30 jaksa lantas membawa Nurdin ke Rutan Salemba. Rutan ini dipilih karena relatif lebih dekat dengan lokasi penangkapan.


Ditanya lokasi detail penangkapannya, Thomson menolak menjelaskan. Dia mengatakan bahwa Tugarisman dkk yang menangkap Nurdin mengaku lupa. “Saat itu kan malam-malam sehingga lupa lokasi jalannya,” ujar Thomson.

Informasi yang diperoleh koran ini menyebutkan, Nurdin terendus sejak keluar dari sebuah hotel di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Dia menginap di sana untuk menghindari kejaran tim eksekutor. Nurdin lantas berinisiatif menyerahkan diri setelah diancaman jaksa agung yang akan menjadikannya buronan jika melewati deadline kemarin siang. Untuk penyerahan diri, Nurdin memilih mendatangi Rutan Salemba. Di rutan ini, dia pernah mendekam sebagai tahanan dalam kasus impor gula. Namun, belum sempat sampai di Rutan Salemba, jaksa mencegat dan menangkap Nurdin di sebuah lokasi di Menteng.

Tim gabungan dari Kejati DKI dan Kejari Jakarta Selatan langsung membawa anggota Komisi III DPR tersebut di Rutan Salemba. Nurdin tiba di rutan sekitar pukul 05.20. Dia harus menandatangani berita acara pelaksanaan eksekusi di depan petugas kejaksaan.

Saat administrasinya diproses, kolega Nurdin berdatangan. Antara lain, Andi Darussalam Tabussala (pengurus PSSI), Kadir Halid (adik kandungnya), dan Irianto Andi Baso Ence (pengacaranya). Mereka tampak berkumpul di lantai II rutan. Selanjutnya, setelah penandatanganan berita acara eksekusi, Nurdin digiring menuju ke sel mapenaling (masa pengenalan lingkungan) di rutan yang berlokasi di Jakarta Pusat tersebut.

Nurdin menyiapkan segala perkakas selama menjalani pemidanaan. Buktinya, di Toyota Kijang B 8751 UG yang dikendarainya, ada kasur lipat dan selimut tebal. Di mobil itu, Nurdin juga membawa berkas kontramemori peninjauan kembali (PK) atas putusan kasasi kasus minyak goreng. Di belakang Kijang tersebut, ada Honda Accord berpelat B 2212 MT. Dalam kabin sedan Accord, terlihat tumpukan baju, selimut, kasur lipat, dan beberapa potong kain.

Di sela eksekusi, Nurdin diwawancarai wartawan. Dia membantah keras bahwa penyebutan bahwa kejaksaan menangkapnya. “Saya datang ke sini (Rutan Salemba) untuk menyerahkan diri,” ujar Nurdin. Dia berkali-kali menegaskan tidak pernah berniat melarikan diri.

Ditanya mengapa tidak mendatangi Kejari Jakarta Selatan dan memilih menetap di luar rumah, Nurdin menjawab masih menunggu salinan putusan. “Saya baru mendapatkan tadi malam (Senin, 17/09). Itu pun saya baru akan membacanya,” katanya.

Nurdin mengaku shock atas putusan kasasi yang menghukumnya dua tahun. Sebab, selama belum menerima salinan putusan, Nurdin menganggap, statusnya masih bebas murni sebagaimana isi putusan PN Jakarta Selatan.

Hingga pukul 18.30, Nurdin masih mendekam di sel mapenaling. Dari informasi petugas rutan diketahui, Nurdin masih tampak shock. Dia juga terlihat banyak merenung. Bahkan, beberapa koleganya, termasuk Kadir Halid, belum dapat bertatap muka dengan sang kakak. “Saya sudah lama di sini, tetapi masih belum dapat bertemu lagi. Dia masih di sel mapenaling,” jelas Kadir.

Di tempat terpisah, Kepala Pengamanan Rutan Salemba R Deni Suarya mengatakan, Nurdin ditempatkan di sel isolasi sebelum dipindah ke Lapas Cipinang. “Seperti terpidana lain, dia masih butuh pengenalan,” kata Deni. Di sel mapenaling, Nurdin yang menempati ruang berukuran 3 x 3 meter persegi membaur dengan penghuni rutan lainnya, khususnya yang baru tahap pengenalan.

Dari gedung Kejagung, Direktur Penyidikan M. Salim mengatakan, setelah dieksekusi, Nurdin akan diperiksa dalam kasus korupsi penyalahgunaan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) pada Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC) Rp 175 miliar. “Dia (Nurdin) diperiksa sebagai saksi,” kata Salim. Tim penyidik masih mengevaluasi untuk menjadwalkan pemanggilan pada pekan depan.

Dalam kasus BPPC, Nurdin dianggap tahu monopoli tata niaga cengkih oleh lembaga yang dipimpin Tommy Soeharto itu. Sebab, Nurdin selaku ketua Induk Koperasi Unit Desa (Inkud) merupakan salah satu di antara tiga unsur BPPC. Nurdin juga ikut memfasilitasi pembelian cengkih dari petani. Ketua umum PSSI itu pernah ditetapkan sebagai tersangka, tetapi dalam sidang dibebaskan.

Mengundurkan Diri dari DPR

Nurdin Halid, agaknya, tidak ingin memperburuk lagi catatan karir politiknya di Senayan. Sebelum rapat pengurus harian DPP Partai Golkar dilaksanakan tadi malam, ketua umum PSSI tersebut memilih mengundurkan diri dari keanggotaan di DPR. Surat pengunduran diri itu diterima Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla sekitar pukul 22.00.

Surat itu diserahkan Ibnu Mundzir, fungsionaris Golkar yang menjenguk Nurdin di Rutan Salemba. Mundzir diminta Nurdin untuk menyerahkan surat tersebut ke kediaman Jusuf Kalla di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Surat itu ditujukan kepada ketua umum DPP Partai Golkar dan ditembuskan ke Ketua DPR RI Agung Laksono, ketua FPG, dan ketua DPD Partai Golkar Sulsel.

“Baru saja saya terima surat pengunduran diri Pak Nurdin,” ujar Kalla sebelum rapat pengurus harian DPP Partai Golkar di rumahnya tadi malam. Rapat tersebut sengaja dilaksanakan untuk membahas putusan kasasi Mahkamah Agung terhadap kader senior Golkar, Nurdin Halid. Rapat yang baru dimulai pukul 21.30 tersebut juga membahas pergantian antarwaktu (PAW) politikus asal Makassar itu.

Dalam rapat tersebut, hadir 30 di antara 35 pengurus harian. Ketika rapat berlangsung, datang surat pengunduran diri dari Nurdin Halid itu. Dalam suratnya, Nurdin menyatakan, “Sebagai anggota dan kader Partai Golkar, saya akan tetap loyal kepada keputusan partai. Karena itu, saya mohon maaf dan mengundurkan diri dari anggota DPR. Pengunduran diri ini karena (saya, Red) tidak mungkin melaksanakan tugas (sebagai anggota DPR, Red) saat menjalani hukuman.” Demikian petikan surat Nurdin.

Ketua Bidang Hukum dan HAM Muladi mengatakan, DPP Golkar telah menerima salinan amar putusan kasasi MA Nomor 138K/Pidana/2007 tertanggal 13 September 2007. Intinya menyatakan bahwa terdakwa Nurdin Halid terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Dia dihukum dua tahun penjara dan denda Rp 30 juta.

Setelah mengkaji amar putusan kasasi Nurdin, DPP Golkar secara aklamasi menerima pengunduran diri Nurdin Halid dengan alasan agar tidak menganggu kinerja partai di DPR. Muladi mengatakan, Golkar akan taat hukum dan mengambil keputusan berdasar landasan hukum formal serta mengikat.

Langkah mundur Nurdin itu mirip dengan yang dilakukan anggota komisi agama dari FPG, Yahya Zaini. Dalam skandalnya bersama pedangdut Maria Eva, DPP Partai Golkar berancang-ancang untuk memecat yang bersangkutan. Sebelum rapat pengurus harian dilaksanakan untuk membahas status keanggotaan Yahya di DPR, surat pengunduran diri dikirimkan langsung kepada Jusuf Kalla. Hal itu memang lebih bermartabat daripada Golkar me-recall mereka.. baca selengkapnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: